PPC Iklan Blogger Indonesia

Jumat, 26 Juni 2015

Cerpen : Liburan Mengerikan

Libur sekolah telah tiba. Di sebuah sekolah ternama di kota Banjarmasin para murid bersemangat mengatur rencana untuk mengisi hari libur mereka dengan kegiatan yang bermakna dan bermanfaat. Lain dengan Edi, Anang dan Rudi mereka mengatur rencana untuk berlibur ke puncak tanpa sepengetahuan orang tua dan pihak guru di sekolah. Keesokan harinya Anang, Rudi dan Edi minta ijin ke orang tua agar di ijinkan untuk mengikuti kegiatan berkemah di sekolah, padahal saat itu di sekolah tidak ada acara berkemah, mereka berkemas menyiapkan barang-barang dan kebutuhan selama ke camping ke puncak, tepat jam 10.35 wita mereka berangkat menuju puncak yang berada jauh di daerah Kabupaten Banjar, Puncak ini terkenal dengan air terjun, pemandian putri raja dan bekas benteng peninggalan belanda, tidak ada masalah di dalam perjalanan mereka ke puncak karena jalan menuju puncak pada saat itu tidak lah terlalu ramai. Setibanya di lokasi yang di tuju tepat jam 12.00 wita mereka membereskan perbekalan mereka dan mengatur tempat yang strategis untuk mendirikan kemah, tepat di dekat air terjun dan di bawah lereng kolam pemandian putri raja yang terkenal angker dan jauh dari pemukiman warga setempat, setelah mereka mendirikan kemah Anang dan Rudi pergi mencari ranting-ranting tua yang sudah kering untuk d jadikan kayu bakar buat memasak makanan dan membuat api unggun buat malam sedangkan Edi tidak ikut dia menjaga kemah. Tanpa di sadari, mereka ternyata sudah terlalu jauh berjalan meninggalkan lokasi kemah. Anang dan Rudi tersesat padahal mereka sudah bertanya ke orang yang berpapasan dengan mereka di jalan. Lebih dari 10 kali mereka berjalan tetap saja kembali ketempat yang sama. Akhirnya mereka berdua duduk istirahat di pinggir aliran air terjun wajah mereka terlihat kelelahan dan pucat. Sedangkan Edi yang di tinggal kan sendirian di kemah merasa tidak tenang dan ketakutan, karena setiap ada bunyi-bunyian di semak-semak dan pepohonan dia langsung menjerit memanggil nama kedua temannya sambil memegang sebilah kayu. Malam telah tiba tanpa di sadari akibat kelelahan mencari jalan pulang ke kemah Anang dan Rudi Ketiduran di pinggir aliran air terjun, dan dengan nekat akhirnya Edi berbekalkan sentar dan sebilah kayu memberanikan diri masuk ke dalam hutan menyusul Anang dan Rudi kedalam hutan. Di sepanjang jalan Edi selalu di ganggu dengan bermacam- macam suara tawa misterius yang membuat Edi lari terbirit- birit. Di lain tempat Anang dan Rudi terbangun karena di kejutkan oleh genangan air dari aliran air terjun yang semakin dalam dan deras sesekali suara air tejun menyerupai suara tawa raksasa. Anang dan Rudi dengan langsung lari terbirit-birit menjauhi aliran air terjun sampai di sebuah pohon besar. Tanpa di sengaja Edi, Rudi dan Anang saling bertabrakan. Mereka bertiga terlihat ketakutan dan masing-masing mulut mereka komat kamit membaca doa sambil bersandar di pohon besar dan akhirnya jatuh pingsan. Keesokan harinya mereka sadar dan terbangun karena terkena cahaya matahari dari sela-sela daun pohon cemara yang sangat besar tepat di tepian kolam pemandian putri raja. Mereka bergegas meninggalkan tempat itu dan berbenah merapikan kemah dan segera pergi dari puncak yang terkenal angker. Saat mereka turun dari puncak mereka bertemu dengan seorang kakek yang sedang mencari rumput buat pakan ternak sapi. Mereka bertiga berhenti dan bertanya kepada kakek tersebut tentang tempat perkemahan yang membuat mereka ketakutan sampai jatuh pingsan. Dengan singkat kakek itu menjawab dengan raut muka misterius menjawab sambil tertawa “Kalian masuk tanpa ijin dan mendirikan kemah tepat di depan istana raja kami kalian harus pergi atau kalian akan mati!!!”. Edi, Rudi dan Anang langsung bergegas lari untuk pergi tanpa menoleh kebelakang lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar